Catatan 100 Hari Kerja! dari Gerakan Masyarakat Hingga Pemanfaatan Teknologi
PANGKALPINANG,DISKOMINFO — Gedung Tudung Saji Kantor Wali Kota Pangkalpinang, pada 15 Oktober 2025 silam, menjadi saksi tumbuhnya kembali harapan masyarakat Ibu Kota Provinsi untuk sebuah kemajuan, dan kesejahteraan, juga pemberdayaan.
Bait narasi pelantikan digaungkan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Hidayat Arsani, menghantarkan Prof. Saparudin dan Dessy Ayutrisna menjadi Wali Kota, dan Wakil Wali Kota Pangkalpinang (2025-2030). Disela itu, kemudian kalimat janji jabatan, pun diikrarkan.
Hujan yang membasahi bumi Pangkalpinang pada periode itu sebagai penanda utama apa yang harus dilakukan sejak hari pertama mereka mengabdikan diri sebagai pelayan masyarakat. Keduanya, Prof. Udin dan Cece Dessy- begitu mereka akrab disapa, turun menghadirkan diri di tengah warganya terdampak banjir.
Setiap jengkal wilayah terdampak langsung dipetakan untuk dilakukan penanganan jangka pendek dan segera. Luapan air, sigap ditangani perangkat terkait. Puluhan personel dari tim gabungan lintas sektor turun tangan demi memberikan masyarakat ketenangan.
Aspek sosial tak luput menjadi tindakan, sudah menjadi sebuah tanggung jawab Pemerintah Kota Pangkalpinang. Bantuan logistik disalurkan, kebutuhan pangan diberikan bagi mereka terdampak. Bahkan, komunikasi aktif dilakukan Prof Udin-Cece Dessy-menarik pihak-pihak untuk hadir berbagi kepedulian bagi warganya.
Galakkan Gotong Royong
Hari ini, 25 Januari 2026 tepat seratus hari kepemimpinan Prof. Udin sebagai Wali Kota, dan Cece Dessy sebagai wakil. Mereka memilih untuk tidak mengendurkan semangat. Semua dirasa masih sama, memilih bergerak, bekerja merealisasi program-program prioritas yang menyentuh kebutuhan warga.
Langkah pasangan ini untuk melepaskan Pangkalpinang dari jeratan banjir, dimulai dari hal paling sederhana, menjaga lingkungan. Gotong royong digalakkan, menggandeng seluruh unsur pemerintahan, bahkan dari level RT/RW, perangkat kemudian kelurahan, kecamatan, hingga Perangkat Daerah (PD).
Setiap Jumat pagi, aksi bersih-bersih kantor di Lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Pangkalpinang dijadikan sebagai kegiatan rutin. Prof. Udin-Cece Dessy ingin aksi tersebut sebagai percontohan bagi masyarakat. Aksi tersebut terus meluas dengan beragam penamaan, seperti “KOLAK BEKO” (Kolaborasi Akbar Bersih Kota), yang merupakan gagasan masyarakat sendiri.
Suarakan Masalah Banjir ke Pusat
Lebih jauh, komunikasi di level yang lebih tinggi, dibangun. Kementerian terkait, seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) disambangi. Di sana, Prof Udin memaparkan kebutuhan prioritas, dan mendesak untuk sebuah kenyamanan, serta ketenangan bagi masyarakatnya. Ia menyimpan harapan besar terbukanya tabir bagi usulannya berkenaan peningkatan infrastruktur dalam pembahasan APBN 2026.
“Kota Pangkalpinang sangat membutuhkan dukungan infrastruktur dari pemerintah pusat. Kami berharap usulan ini menjadi bahan pertimbangan serius, dan dapat diaplikasikan secara nyata di daerah,” ujarnya saat itu.
Kelola Sampah Manfaatkan Teknologi
Pemkot Pangkalpinang terus berupaya memadupadankan antara pelestarian lingkungan untuk mencegah terjadinya banjir, dengan pemanfaatan atas sampah menjadi produk hilir. Sebuah teknologi dikembangkan. Barang buangan, kini dipandang dapat berbuah potensi ekonomi.
Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Kawa Begawe di Kelurahan Selindung yang sempat beberapa tahun terbengkalai, kembali dioperasikan oleh Prof. Udin, pada Jumat (23/1/2026).
Wali Kota Prof. Saparudin mengungkapkan, ia sengaja meminta agar fasilitas yang menjadi aset Pemkot Pangkalpinang ini sebagai upaya dalam penanganan sampah di Ibu Kota Provinsi Bangka Belitung (Babel) yang berkisar 100 ton per hari.
“Sekarang kita akan operasikan ini secara optimal. TPS3R ini dengan sistem 3R, reduce, reuse, recycle. Jadi reduce mengurangi, kemudian reuse memanfaatkan kembali, mendaur ulang, kemudian recycle,” ujarnya.
Untuk pengelolaan sampah organik, Pemerintah Kota Pangkalpinang menggandeng Forum Masyarakat Peduli Sampah (Formap) yang telah berpengalaman mengelola sampah organik selama enam tahun. Sampah organik yang masuk akan diolah menjadi kompos oleh Formap.
“Formap ini sudah cukup berpengalaman karena sudah 6 tahun mereka mengelola sampah organik. Kita nanti akan mengadakan MoU dan PKS dengan Formap,” kata Wali Kota.
Pemkot Pangkalpinang juga telah mengajukan bantuan peralatan mesin kepada pihak terkait untuk mendukung pengelolaan sampah organik tersebut. Prof Udin-sapaan akrabnya, optimis dengan pengoperasian TPS3R permasalahan sampah di Pangkalpinang dapat teratasi.
“Dengan 10 ton sampah per hari, kalau kita ada 10 (TPS3R) saja yang seperti ini, maka persoalan sampah di Pangkalpinang insyaallah selesai. Dengan adanya 10 itu berarti kita ada 100 ton,” jelasnya.
Menurutnya, volume sampah di Pangkalpinang rata-rata mencapai 100 ton per hari, kecuali saat hari raya, atau hari besar yang jumlahnya lebih banyak.
Selain TPS3R yang baru diresmikan, Pemkot Pangkalpinang juga akan mengoperasikan dua TPS3R lainnya yang berlokasi di Genas dan Semabung. Meski kapasitasnya lebih kecil, keduanya diharapkan dapat menambah daya tampung pengolahan sampah kota.
“Dengan kita mengoperasikan ini, semakin sedikit sampah yang menjadi residunya,” pungkas Wali Kota.
Penulis : Ira/Maya
Editor : Dedi









