Update
light_mode
Trending Tags

Warisan Monumental Timah Membentuk Peradaban Masyarakat Bangka

  • account_circle DISKOMINFOPKP
  • calendar_month Selasa, 30 Mei 2023
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PANGKALPINANG, DISKOMINFO – Peradaban masyarakat Bangka saat ini tidak terlepas dari penambangan timah sejak awal-awal masehi. Penambangan timah bisa dikatakan sebagai awal mula terbentuknya peradaban masyarakat di Pulau Bangka.

Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia, Akhmad Elvian mengisahkan peradaban masyarakat yang tak terlepas dari sejarah penambangan timah. Elvian juga menulis buku berjudul Timah dan Peradaban Bangka. Dia memulai menceritakan sejarah Pulau Bangka yang dijuluki Pulau Timah dimulai dari isi Kitab Milindrapanta dan Mahaniddessa pada abad 1 – 3 masehi. Didalamnya dituliskan beberapa negeri di Lautan Selatan ada yang disebut Jawa Dwipa (pulau penghasil padi), Swarna Dwipa (pulau penghasil emas) dan Wanka Dwipa (pulau penghasil timah).

“Jadi nama Bangka itu berasal dari kata Wanka atau Vanca dalam Bahasa Sanskerta berarti timah,” kata Elvian.

Kemudian sekitar abad 5 – 7 masehi timah di Pulau Bangka mulai dieksplorasi namun dalam jumlah terbatas. Terak-terak sisa peleburan timah pada abad 5 masehi itu ditemukan di situs Kota Kapur, dan timah dijadikan sebagai bahan campuran pembuatan peralatan yang disebut dengan perunggu. Perunggu merupakan campuran dari tembaga dan timah.

Timah mulai dieksplorasi dan eksploitasi besar-besaran dimulai sekitar awal abad 18 masehi. Ketika terjadi revolusi industry di Eropa yang membutuhkan bahan baku logam khususnya timah. Timah menjadi komoditas yang sangat laku di pasaran Eropa. Begitu pun di Asia, timah dijadikan sebagai campuran untuk membuat uang logam, yang biasanya dicampur dengan perak dan emas.

“Di China ada tradisi membakar uang-uang kertas atau kimci. Biasanya dilapisi stannum (Sn) atau timah agar proses pembakaran lebih cepat. Pada saat itu timah menjadi komoditas paling laku di dunia,” kata Elvian.

Di tahun 1706 – 1710, timah di Pulau Bangka mulai ditemukan dalam deposit besar sehingga dilakukan eskploitasi dan eksplorasi besar-besaran. Pada masa kekuasaan Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago tahun 1710, dia menandatangi perjanjian perdagangan timah dengan VOC (Perusahaan Hindia Timur Belanda) sehingga untuk menambang timah diperlukan keahlian dan tenaga kerja terampil.

“Kontrak perdagangan timah itu memperbaharui kontrak perdagangan lada yang sudah ditandatangani lebih awal. Jadi kontrak sebelumnya ditambah dengan kontrak timah, “ lanjutnya.

Sejak pada saat itu lah timah mulai ditambang dengan teknik sederhana, teknik pribumi Bangka yang disebut teknik Toboalih. Teknik itu masih digunakan sampai akhir masa kekuasaan Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikromo di wilayah Bangka Selatan dan Bangka Tengah tahun 1757. Sedangkan untuk wilayah Bangka Barat dan Utara sejakTahun 1724 dimulai dengan teknik baru ketika Sultan Mahmud Badaruddin I mendatangkan pekerja tambang dari China, Vietnam, Kamboja, Laos, Semenanjung Malaka, Johor dan Siantan serta Patani untuk menambang timah di Bangka karena Sultan memperbaharui kontrak timah dengan harus menjual sekitar 30 ribu pikul timah ke VOC setiap tahunnya.

“Untuk memenuhi kuota harus didatangkan orang-orang yang ahli terutama menguasai teknik baru. Sejak itu timah menjadi “tambang emas” kedua ibaratnya yang mendatangkan kemakmuran dan keuntungan besar bagi pemerintah belanda setelah produk-produk perkebunan,” sambung Elvian.

Timah mendatangkan kekayaan nomor dua setelah hasil perkebunan untuk membangun kota-kota besar di Belanda.

Elvian menuturkan, timah dieksploitasi sejak abad 5, 7, 18 dan sampai sekarang masih terus dieksploitasi oleh penguasa-penguasa sesuai zamannya. Karena rentang waktu panjang proses penambangan timah di Bangka itu lah yang membentuk peradaban masyarakat Bangka.

Pertama, pembangunan kota-kota di Bangka yang didirikan dalam konteks penambangan timah. Pangkal-pangkal didirikan untuk mengatur distribusi timah yang didirikan pada masa Sultan Ahmad Najamuddin I Adikusumo pada tahun 1757-1776 itu adalah pangkal-pangkal yang sekarang menjadi kota-kota di Pulau Bangka. Seperti Pangkalpinang, Toboali, Baturusa, Sungailiat, Belinyu, Jebus dan Mentok, yang awalnya merupakan pangkal kedudukan demang dalam mengatur pendistribusian timah.

Kedua, masyarakat Bangka terbentuk dari beberapa etnik grup. Ada orang darat, orang laut, orang Tionghoa dan orang Melayu. Pembentukan masyarakat Bangka yang dikenal sekarang adalah proses asimilasi dan akulturasi dari empat etnik grup. Orang Tionghoa dan Melayu adalah pendatang dalam konteks menambang timah. Mereka melakukan asimilasi dan akulturasi dengan orang darat dan orang laut yang merupakan pribumi Bangka sehingga membentuk masyarakat Bangka yang dikenal sekarang.

“Jadi orang bangka yang dikenal sekarang proses pembentukannya tidak terlepas dari proses penambangan timah,” ujar Elvian.

Banyak kampung-kampung di Pulau Bangka yang terbentuk dari kampung-kampung bekas penambangan timah. Misalnya penamaan Sung Sha Thi atau Pasir Putih, Tambang 46 atau kampung Si Luk. Jadi penamaan kampung-kampung ini didirikan dari bekas penambangan timah.

Ketiga, peradaban Bangka ditandai dengan system penambangan timah yang istilah penambangan masih berlaku sampai sekarang, misalnya untuk menyatakan waktu kerja dan lama kerja digunakan system Kung atau Dagtak.

“System kerja itu awalnya ada dipertambangan timah sampai sekarang masih diberlakukan,” katanya.

Penambangan timah berpengaruh terhadap system social, ekonomi dan budaya masyarakat termasuk system upah kerja. System budaya juga dipengaruhi misalnya orang-orang Tionghoa yang datang ke Bangka untuk menambang timah boleh menikah dengan perempuan pribumi Bangka, tetapi harus membayar uang persembahan atau Tetukun sebesar 24 ringgit. Namun perempuan pribumi tidak boleh dibawa pulang sehingga orang Tionghoa harus tinggal di Bangka.

“Makanya banyak sekali orang Tionghoa di Bangka. Dari hasil pernikahan tersebut lah melahirkan orang-orang yang istilahnya disebut peranakan. Budaya masyarakatnya pun dipengaruhi melalui proses perkawinan,” ujar Elvian.

Akibat penambangan timah ini berpengaruh pada sector social budaya. Membentuk peradaban masyarakat Bangka sekarang. Sampai yang terpenting timah mempengaruhi hukum adat istiadat setempat.

Begitu pun dengan dibangunnya Masjid Agung Kubah Timah di Kota Pangkalpinang. Menurut Elvian, membangun kota harus berdasarkan konsep historis dan filosofis. Historisnya yaitu sebagai salah satu distrik penambangan timah yang produktif di Pulau Bangka.

Dari sisi pemerintahan, Kota Pangkalpinang sebagai pusat ibukota keresidenan Bangka sejak 3 September 1913, saat ibukota dipindahkan dari Mentok ke Pangkalpinang, dan Tahun 1933 Pangkalpinang kemudian menjadi ibukota Keresidenan Bangka Belitung.

“membangun kota berdasarkan konsep ini dan memang Pangkalpinang sebagai salah satu kota produktif penghasil timah. Harus meninggalkan warisan yang monumental terkait timah. Harus ikonik dan berdasarkan aspek filosofis dan historis, salah satunya membangun Masjid Agung Kubah Timah,” kata Elvian.

Adanya Masjid Agung Kubah Timah ini, kata Elvian, sangat luar biasa menghargai masa lalu timah dan pemerintahan di Bangka. Menghargai timah yang membangun peradaban kita pada masa lalu, ditampilkan pada masa kini dengan bangunan yang ikonik seperti masjid untuk merangkul masa depan.

“Jadi anak cucu kita akan tau timah membangun peradaban kita dari masa ke masa. luar biasa dengan pembangunan masjid agung kubah timah yang ikonik. ikonik itu bisa diinderai dengan panca indra denqan baik. Ketika melihat bangunan masjid panca indra kita bekerja. Luar biasa. Honoring the past, celebrating the present, dan embracing the future,” tutupnya.

Penulis: Ira/Seftia

Editor: Ira/Dedy

  • Penulis: DISKOMINFOPKP

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Artikel Lainnya

  • Bakti Sosial Peduli Kampung Bentuk Nyata Kepedulian Terhadap Sesama

    Bakti Sosial Peduli Kampung Bentuk Nyata Kepedulian Terhadap Sesama

    • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
    • account_circle DISKOMINFOPKP
    • 0Komentar

    PANGKALPINANG — Walikota Pangkalpinang Prof. Saparudin didampingi Wakil Walikota Dessy Ayutrisna, menghadiri kegiatan Bakti Sosial Peduli Kampung, di Alun-Alun Taman Merdeka Pangkalpinang, Minggu (8/2/2026). Kegiatan yang dilaksanakan Ikatan Kekeluargaan Masyarakat (IKM) Babel dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan ini, mendapat apresiasi dari Wali Kota Prof. Udin-sapaan akrabnya. Ia melihat bakti sosial tersebut sebagai wujud kepedulian […]

  • Pemkot dan DPRD Sepakati Rancangan Awal RPJMD 2025–2029

    Pemkot dan DPRD Sepakati Rancangan Awal RPJMD 2025–2029

    • calendar_month Senin, 8 Des 2025
    • account_circle DISKOMINFOPKP
    • 0Komentar

    PANGKALPINANG,DISKOMINFO — Wali Kota Pangkalpinang Prof Saparudin, menyampaikan pernyataan resmi dalam Rapat Paripurna DPRD Kota Pangkalpinang terkait Penandatanganan Nota Kesepakatan Rancangan Awal Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Pangkalpinang Tahun 2025–2029, Senin (8/12/2025). Dalam pidatonya, Wali Kota menyampaikan apresiasi kepada pimpinan dan seluruh anggota DPRD Pangkalpinang atas masukan, saran, serta pokok-pokok pikiran yang telah […]

  • Di Penghujung 2023, Pemkot Pangkalpinang Diganjar Penghargaan Penyajian Data Terbaik

    Di Penghujung 2023, Pemkot Pangkalpinang Diganjar Penghargaan Penyajian Data Terbaik

    • calendar_month Selasa, 12 Des 2023
    • account_circle DISKOMINFOPKP
    • 0Komentar

    PANGKALPINANG, DISKOMINFO – Pemerintah Kota Pangkalpinang kembali meraih penghargaan di penghujung tahun 2023. Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Pembendaharaan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pembendaharaan Bangka Belitung mengganjar Pemkot Pangkalpinang sebagai pemerintah daerah dengan penyajian data terbaik. Penghargaan diterima langsung oleh Penjabat (Pj) Wali Kota Pangkalpinang, Lusje Anneke Tabalujan yang diserahkan oleh Pj Gubernur Bangka […]

  • Ratusan Ustaz dan Ustazah Terima Insentif Semester II Tahun 2022 dari Pemkot Pangkalpinang

    Ratusan Ustaz dan Ustazah Terima Insentif Semester II Tahun 2022 dari Pemkot Pangkalpinang

    • calendar_month Selasa, 22 Nov 2022
    • account_circle DISKOMINFOPKP
    • 0Komentar

    PANGKALPINANG, DISKOMINFO – Ratusan ustaz dan ustazah se-Kota Pangkalpinang mengikuti pertemuan bersama Wali Kota Pangkalpinang dan Ketua BKMT di Ruang OR kantor Wali Kota, Selasa (22/11/2022). Pertemuan yang diadakan BKPRMI Kota Pangkalpinang ini sekaligus membahas pencairan insentif para ustaz dan ustazah semester II. Ketua BKPRMI Kota Pangkalpinang, ustaz Fajar Agustiawan menuturkan ustaz dan ustazah se-Pangkalpinang […]

  • Pemkot Pangkalpinang Percepat Penurunan Angka Stunting Melalui Gerakan Merdeka Stunting

    Pemkot Pangkalpinang Percepat Penurunan Angka Stunting Melalui Gerakan Merdeka Stunting

    • calendar_month Jumat, 2 Agt 2024
    • account_circle DISKOMINFOPKP
    • 0Komentar

    PANGKALPINANG, DISKOMINFO – Pj Wali Kota Pangkalpinang, Budi Utama mengikuti senam bersama ASN Pemkot Pangkalpinang, Jumat (2/8/2024) di halaman kantor wali kota. Senam pagi juga diikuti Pj Ketua PKK, sekda serta jajaran kepala OPD. Selain olahraga, Pj Wali Kota juga menyampaikan program kerja pemerintah dalam mengatasi stunting, yakni Seperadik KIPING (Kite Peduli Stunting) melalui Gerakan […]

  • Pemkot Pangkalpinang Dukung Toleransi Antar Ummat Beragama, Rayakan 100 Tahun Keuskupan Di Kota Pangkalpinang

    Pemkot Pangkalpinang Dukung Toleransi Antar Ummat Beragama, Rayakan 100 Tahun Keuskupan Di Kota Pangkalpinang

    • calendar_month Sabtu, 30 Des 2023
    • account_circle DISKOMINFOPKP
    • 0Komentar

    PANGKALPINANG, DISKOMINFO – Penjabat Wali Kota Pangkalpinang, Lusje Anneke Tabalujan menghadiri undangan perayaan 100 tahun Keuskupan Kota Pangkalpinang di Geraja Katolik Keuskupan Pangkalpinang, Sabtu (30/12/2023). Pada acara itu terlihat adanya keharmonisan antar umat beragama dengan kehadiran para tamu undangan dari ormas keagamaan lainnya. Di kesempatan itu juga, Lusje menyumbangkan sebuah lagu Crishye “Damai Bersama Mu” […]

expand_less