Sampah Tak Lagi Sekadar Dibuang
- account_circle admin
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PANGKALPINANG β Bau sampah masih samar tercium di sudut TPS 3R Kawa Begawe, Kelurahan Selindung. Di tempat itu, tumpukan plastik tidak lagi seluruhnya berakhir di tempat pembuangan akhir. Sebagian dicacah, diolah, lalu dicetak menjadi paving blok. Sementara sisa makanan dan dedaunan diproses menjadi kompos.
Aktivitas di lokasi pengolahan sampah itu berlangsung pelan, tetapi memberi gambaran tentang arah baru penanganan sampah di Kota Pangkalpinang.
Bukan lagi sekadar mengangkut dan membuang, melainkan mulai mengurangi sampah sejak dari sumbernya.
Upaya itu dilakukan melalui penguatan gotong royong, pengaktifan TPS 3R, hingga pengembangan bank sampah dan pengolahan mandiri di lingkungan masyarakat.
Jika satu wilayah mampu menjalankan pengolahan sampah berbasis lingkungan, wilayah lain dinilai juga dapat melakukan hal serupa. Pengurangan sampah tidak lagi hanya bergantung pada pengangkutan menuju TPA, tetapi juga keterlibatan masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah sejak dari rumah tangga.
Selama ini, persoalan sampah masih berkutat pada penanganan di hilir. Padahal, persoalan utama justru berada pada kebiasaan membuang sampah tanpa pemilahan.
Setiap hari, sekitar 120 hingga 150 ton sampah masuk ke TPA Parit Enam. Di sisi lain, terdapat 33 titik sampah liar yang masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah kota.
Di TPS 3R Selindung, sebagian persoalan itu dicoba diurai satu per satu. Sampah organik diolah menjadi kompos dan pakan maggot.
Sampah plastik diproses menggunakan teknologi sederhana menjadi paving blok. Ke depan, hasil paving blok tersebut direncanakan dimanfaatkan untuk pembangunan jalan setapak dan taman bekerja sama dengan dinas terkait.
Selain itu, pengolahan sampah plastik juga diarahkan menjadi RDF atau refuse-derived fuel, yakni bahan bakar alternatif untuk industri seperti PLTU maupun pabrik semen.
Dari seluruh sampah yang masuk ke TPS 3R Selindung, hanya sekitar 30 persen yang akhirnya dibawa ke TPA. Selebihnya berhasil dikurangi atau diberdayakan kembali di lokasi pengolahan.
Kondisi itu menunjukkan bahwa sampah sebenarnya tidak selalu identik dengan barang buangan. Plastik masih bisa didaur ulang. Sampah organik dapat menjadi kompos maupun maggot. Bahkan, sampah tertentu berpotensi diolah menjadi energi.
Namun, upaya tersebut dinilai tidak akan berjalan tanpa keterlibatan masyarakat. Pemilahan sampah dari rumah tangga menjadi bagian penting untuk memperpanjang usia TPA sekaligus mengurangi keberadaan sampah liar.
Karena itu, masyarakat, pelaku usaha, pedagang pasar, hingga sekolah didorong mulai memilah sampah organik dan anorganik sejak dari sumbernya.
Setiap aktivitas menghasilkan sampah sehingga tanggung jawab pengelolaannya tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah semata.
Di tengah meningkatnya volume sampah kota, TPS 3R Selindung menjadi contoh kecil bahwa sebagian sampah ternyata masih bisa diberi kesempatan kedua. Bukan untuk dibuang, melainkan diolah kembali agar memiliki nilai guna.
Penulis : Ira Kurniati
- Penulis: admin







Saat ini belum ada komentar